Peran Perawat dalam Ibadah, Tayamum, dan Do’a Bagi Orang Sakit

kesehatanManusia memiliki hal-hal penting dalam hiseragam-perawat-muslimdupnya, salah satunya adalah kesehatan. Ya, kesehatan adalah hal paling penting yang dimiliki setiap manusia karena pada dasarnya tidak ada manusia yang menginginkan sakit walaupun seumur hidup manusia pasti pernah mengalami sakit. Ketika sakit tentu saja manusia menginginkan kesembuhan biasanya dengan berobat pada tenaga medis yang dibutuhkan. Penyembuhan pada orang sakit bukan hanya dari segi fisiknya, namun juga dari segi psikis dan spiritual. Orang yang paling berperan dalam imagesperawatan di Rumah Sakit tentu saja adalah perawat. Kesembuhan dari semua aspek baik fisik, psikis, dan spiritual akan tercapai ddengan adanya kerjasama antara perawat, pasien, dan keluarga. Perawat juga yang paling berperan dalam memenuhi kebutuhan spiritual pasien seperti beribadah, tayamum, dan senantiasa mendo’akan kesembuhan pasien.

Berikut ini tata cara membimbing shalat bagi orang sakit :

Sebelum shalat tentunya harus bersuci atau berwudhu terlebih dahulu, untuk orang sakit atau yang tidak boleh terkena air maka diperbolehkan untuk tayamum. Cara bertayamum adalah :

Niat di dalam hati

Berniat tayamum untuk menghilangkan hadas kecil / besar karena Allah. Seseorang yang akan melakukan tayammum wajib berniat di dalam hati terlebih dahulu. (Contoh: Nawaitu tayamuma listibaahatis shalaati farduu lillahi ta’aalaa – niat saya tayamum untuk melaksanakan shalat fardu karena Allah) Berdasarkan sabda Rasulullah shollAllahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya semua amal itu tergantung niatnya, dan seseorang mendapat balasan sesuai dengan yang diniatkannya.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Membaca Bismillah

Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Abu Huroiroh rodhiyAllahu ‘anhu, bahwa Nabi shollAllahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada sholat bagi orang yang tidak berwudhu, dan tidak ada wudhu bagi orang yang tidak menyebut nama Allah.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, Imam Ahmad, dihasankan oleh Syaikh Al Albani)

Menepukkan kedua tangan ke tanah yang suci, cukup sekali tepukan

Kemudian mengusap telapak tangan ke muka. Setelah itu mengusap telapak tangan yang satu dengan yang lain secara bergantian, dimulai dari ujung-ujung jari hingga pergelangan tangan. Hal ini berdasarkan hadits Ammar rodhiyAllahu ‘anhu, “Rasulullah pernah mengutusku untuk suatu keperluan. Ketika itu saya sedang junub dan tidak mendapatkan air. Maka saya berguling-guling di tanah sebagaimana berguling-gulingnya seekor binatang. Lalu saya mendatangi Nabi shollAllahu ‘alaihi wa sallam. Saya ceritakan kejadian itu kepada beliaperawatu. Kemudian beliau berkata, “Sebenarnya cukup bagimu untuk menepukkan telapak tangan demikian.” Kemudian beliau menepukkan kedua telapak tangannya ke tanah sekali tepukan, lalu beliau tiup. Setelah itu beliau usapkan ke muka dan kedua telapak tangan beliau.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Para ulama sepakat bahwa barangsiapa yang tidak mampu melakukan shalat dengan berdiri hendaknya shalat sambil duduk, dan jika tidak mampu dengan duduk, maka shalat sambil berbaring dengan posisi tubuh miring dan menghadapkan muka ke kiblat. Disunnatkan miring dengan posisi tubuh miring di atas tubuh bagian kanan. Dan jika tidak mampu melaksanakan shalat dengan berbaring miring, maka ia boleh shalat dengan berbaring telentang, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepada `Imran bin Hushain:

“Shalatl91448cb8c35e5b70c7a16ba79d4aa233ah kamu sambil berdiri, dan jika kamu tidak mampu, maka sambil duduk, dan jika tidak mampu, maka dengan berbaring”. (HR. Bukhari).

Dan Imam An-Nasa’i menambahkan: “… lalu jika tidak mampu, maka sambil telentang”. Barangsiapa mampu berdiri, akan tetapi tidak mampu ruku` atau sujud, maka kewajiban berdiri tidak gugur darinya. Ia harus shalat sambil berdiri, lalu ruku’ dengan isyarat (menundukkan kepala), kemudian duduk dan sujud dengan berisyarat, karena firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“…Dan berdirilah karena Allah (dalam shalat-mu) dengan khusyu’.`”. (Al-Baqarah: 238).

Dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Shalatlah kamu sambil berdiri”.hqdefault

Dan juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Maka bertaqwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu”. (At-Taghabun: 16).

Dan jika pada matanya terdapat penyakit, sementara para ahli kedokteran yang terpercaya mengatakan:

“Jika kamu shalat bertelentang lebih memudahkan pengobatanmu”, maka boleh shalat telentang. Barangsiapa tidak mampu ruku`dan sujud, maka cukup berisyarat dengan menundukkan kepala pada saat ruku’ dan sujud, dan hendaknya ketika sujud lebih rendah daripada ruku`. Dan jika hanya tidak mampu sujud saja, maka ruku` (seperti lazimnya) dan sujud dengan berisyarat. Jika ia tidak dapat membungkukkan punggungnya, maka ia membungkukkan lehernya; dan jika punggungnya memang bungkuk sehingga seolah-olah ia sedang ruku`, maka apabila hendak ruku`, ia lebih membungkukkan lagi sedikit, dan di waktu sujud ia lebih membungkukkan lagi semampunya hingga mukanya lebih mendekati tanah se-mampunya. Dan barangsiapa tidak mampu berisyarat dengan kepala, maka dengan niat dan bacaan saja, dan kewajiban shalat tetap tidak gugur darinya dalam keadaan bagaimanapun selagi ia masih sadar (berakal), karena dalil-dalil tersebut di atas. Dan apabila ditengah-tengah shalat si penderita mampu melakukan apa yang tidak mampu ia lakukan sebelumnya, seperti berdiri, ruku`, sujud atau berisyarat dengan kepala, maka ia berpindah kepadanya (melakukan apa yang ia mampu) dengan meneruskan shalat tersebut. Dan apabila si sakit tertidur atau lupa melakukan shalat atau karena lainnya, ia wajib menunaikannya di saat ia bangun atau di saat ia ingat, dan tidak boleh menundanya kepada waktu berikutnya. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Barangsiapa tertidur atau lupa melakukan shalat, maka hendaknya ia menunaikannya pada saat ia ingat, tidak ada tebusan lain baginya kecuali hanya itu”. Lalu beliau membaca firman Allah:

“dan dirikanlah shalat untuk mengingatKu”. (Thaha: 14).

Tidak boleh meninggalkan shalat dalam keadaan bagaimanapun; bahkan setiap mukallaf wajib bersungguh-sungguh untuk menunaikan shalat pada hari-hari sakitnya melebihi hari-hari ketika ia sehat. Jadi, tidak boleh baginya meninggalkan shalat wajib hingga lewat waktunya, sekalipun ia sakit selagi ia masih sadar (kesadarannya utuh). Ia wajib menunaikan shalat tersebut menurut kemampuannya. Dan apabila ia meninggalkannya dengan sengaja, sedangkan ia sadar (masih berakal) lagi mukallaf serta mampu melakukannya, walaupun hanya dengan isyarat, maka dia adalah orang yang berbuat dosa. Bahkan ada sebagian dari para Ahlul `ilm (ulama) yang mengkafirkannya berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Perjanjian antara kita dengan mereka (orang munafiq) adalah shalat, barangsiapa meninggalkannya maka kafirlah ia”.

Dan sabdanya:

“Pokok segala perkara adalah Al-Islam, tiangnya Islam adalah shalat dan puncak Islam adalah jihad di jalan Allah”

Begitu pula sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam:

“(Pembatas) antara seorang muslim dengan kemusyrikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat” (HR. Muslim di dalam Shahih-nya).

Dan pendapat ini yang lebih shahih, sebagaimana yang dijelaskan di dalam ayat-ayat Al-Qur’an tentang shalat dan hadits-hadits tersebut. Dan jika ia kesulitan untuk melakukan shalat pada waktunya, maka boleh menjama’ antara shalat Zhuhur dengan shalat Ashar dan shalat Maghrib dengan shalat Isya’, baik jama’ taqdim maupun jama’ ta’khir, sesuai kemampuannya. Dan jika ia mau boleh memajukan shalat Asharnya digabung dengan shalat Zhuhur atau mengakhirkan Zhuhur bersama Ashar di waktu Ashar. Atau jika ia menghendaki, boleh memajukan Isya’ bersama Maghrib atau mengakhirkan Maghrib bersama Isya’. Adapun shalat Subuh, (tetap dilakukan seperti biasa) tidak bisa dijama’ dengan shalat sebelum atau sesudahnya, karena waktunya terpisah dari shalat sebelum dan sesudahnya. Inilah hal-hal yang berhubungan dengan orang sakit dalam bersuci dan melakukan shalat. Aku memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semoga menyembuhkan orang-orang sakit dari kaum muslim dan menghapus dosa-dosa mereka, dan mengaruniakan ma`af dan afiat kepada kita semua di dunia dan akhirat. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Maha Mulia.

Selain membimbing pasien untuk tayamum dan shalat, perawat juga harus mendoakan kesembuhan pasien dan meningatkan pasien tentang hikmah sakit. Berikut beberapa do’a untuk orang sakit :

Dari Tsabit, iasakit berkata: Wahai Abu hamzah (Anas), aku mengeluh (padamu tentang sakit). Lalu Anas berkata: Maukah kalian saya bacakan doa (ruqyah) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam? Ia menjawab: Ya. Lanjut Anas: (Doanya adalah)

اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ، مُذْهِبَ الْبَاسِ، اشْفِ أَنْتَ الشَّافِى لا شَافِىَ إِلا أَنْتَ، شِفَاءً لا يُغَادِرُ سَقَمًا

 “Ya Allah, Tuhan manusia, Penyembuh sakit, sembuhkanlah! Engkaulah Dzat Yang Menyembuhkan. Tidak ada yang dapat menyembuhkan kecuali Engkau. Kesembuhan yang tidak menyisakan sakit.” (HR. Bukhari)

Dari Aisyah bahwasanya Rasulullah pernah memohonkan perlindungan (pada Allah) dengan mengusapkan tangan kanannya (pada bagian yang

sakit) sambil berdoa:

اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ، أَذْهِبِ الْبَاسَ، اشْفِهِ وَأَنْتَ الشَّافِى لا شِفَاءَ إِلا شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لا يُغَادِرُ سَقَمًا

“Ya Allah, Tuhan manusia, hilangkanlah sakit (ini), sembuhkanlah ia, engkau adalah Dzat Yang menyembuhkan, tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan (dari)Mu, kesembuhan yang tidak menyisakan sakit.” (HR. Bukhari)

Dari Aisyah bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah membacakan doa ruqyah untuk orang sakit (dengan doa berikut):

اِمْسَحِ الْبَاسَ رَبَّ النَّاسِ بِيَدِكَ الشِّفَاءُ لَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا أَنْتَ

“Hapuskanlah petaka (sakit)nya wahai Tuhan manusia, di tangan-Mulah kesembuhan. Tidak ada yang menyembuhkannya kecuali Engkau.”

Dari Aisyah, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengatakan (doa) untuk orang sakit (dengan doa berikut):

بِسْمِ اللَّه، تُرْبَةُ أَرْضِنَا، بِرِيقَةِ بَعْضِنَا، يُشْفَى سَقِيمُنَا، بِإِذْنِ رَبِّنَا

“Bismillah, tanah bumi kami dengan air ludah sebagian kami, semoga disembuhkan orang sakit kami, dengan izin Tuhan kami.” (HR. Bukhari dan Muslim)syafakallah-1

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menjenguk seorang badui (arab pedesaan), sebelumnya Rasulullah jika menjenguk orang sakit, beliau mengatakan doa ini:

لا بَأْسَ طَهُورٌ إِنْ شَاءَ اللَّه

“Tidak apa-apa, bersih/suci insya Allah” (HR. Bukhari)

Keterangan: maksud dari bersih/suci adalah semoga sakitnya dapat membersihakan (menghapuskan) dosa-dosanya.

Dari Ibnu Abbas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: Barangsiapa yang menjenguk

orang sakit yang sakitnya bukan ked

atangan ajal, lalu ia berdoa di sisinya sebanyak tujuh kali, dengan doa berikut:

أَسْأَلُ اللهَ الْعَظِيمَ رَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ أَنْ يَشْفِيَكَ

Aku memohon kepada Allah Yang Agung, Tuhan arsy yang agung, agar menyembuhkanmu. Maka Allah akan menyembuhkan dari sakit yang dideritanya (HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh Al-Albani)

Dari Utsman bin Abil ‘Ash bahwasanya  ia pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sedangkan ketika itu ia sedang sakit yang hampir mematikannya. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata letakkanlah/usapkanlah tangan kananmu (pada bagian yang sakit) sebanyak tujuh kali sambil berdoa (berikut):

 بِسْمِ اللهِ بِسْمِ اللهِ بِسْمِ اللهِ أَعُوذُ بِعِزَّةِ الله وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ

“Bismillah bismillah bismillah, aku berlindung kepada Allah dari kejahatan (sakit) yang aku dapati dan aku khawatirkan.”

Lalu Utsman berdoa dengan doa tersebut dan   dihilangkan sakitnya oleh Allah. Ia senantiasa menganjurkan keluarga dan orang-orang untuk senantiasa berdoa dengan doa tersebut (HR. Muslim, Abu Dawud dan Ibnu Majah, dishahihkan Al-Albani).

Hikmah sakit :

Sakit akan menghapuskan dSedekah-menghapus-dosaosa

”Tidaklah menimpa seorang mukmin rasa sakit yang terus menerus, kepayahan, penyakit, dan juga kesedihan, bahkan sampai kesusahan yang menyusahkannya, melainkan akan dihapuskan dengannya dosa-dosanya. (HR. Muslim)

Sakit menjadi kebaikan bagi seorang muslim jika dia bersabar

“Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin, sesungguhnya semua urusannya merupakan kebaikan, dan hal ini tidak terjadi kecuali bagi orang mukmin. Jika dia mendapatBFZFunVCIAE0jKx.jpg large kegembiraan, maka dia bersyukur dan itu merupakan kebaikan baginya, dan jika mendapat kesusahan, maka dia bersabar dan ini merupakan kebaikan baginya. (HR. Muslim)

Sakit akan Membawa Keselamatan dari api neraka,

“Sakit demam itu menjauhkan setiap orang mukmin dari api Neraka.” (HR. Al Bazzar, shohih)

Sakit akan mengingatkan hamba atas kelalaiannya

“Sesungguhnya Allah ta’ala jika mencintai suatu kaum, maka Dia akan memberi mereka cobaan.” (HR. Tirmidzi, shohih)

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (para rasul) kepada umat-umat sebelummu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri. (QS. al-An’am: 42) yaitu supaya mereka mau tunduk kepada-Ku, memurnikan ibadah kepada-Ku, dan hanya mencintai-Ku, bukan mencintai selain-Ku, dengan cara taat dan pasrah kepada-Ku. (Tafsir Ibnu Jarir)

Salah satu faktor penyebab kesembuhan pasien adalah dengan bimbingan perawat, dan tentu saja jika pasien dapat sembuh dari penyakitnya itu merupakan salah satu kepuasan tersendiri bagi perwat dan jika pada akhirnya Allah mentakdirkan pasien tersebut meninggal maka ia meninggal dengan khusnul khotimah karena kita sebagai perawat telah membimbing dari segi spiritual. Jika dilakukan dengan ikhlas dan hanya mengharap ridha Allah niscaya akan mendapat pahala yang sangat besar.

Daftar Pustaka

Format Ujian Rohis Quwwatul ‘Azzam

http://www.darussalaf.or.id/fiqih/tata-cara-shalat-orang-sakit/

http://mifdlol.staff.iainsalatiga.ac.id/2013/01/21/doa-untuk-orang-sakit/